[Penginapan] Holiday Inn The Esplanade Darwin

Pose standar The Precils kalau ketemu Nickelodeon :p

Terus terang tarif hotel di Darwin pada bulan Juni (termasuk high season karena musim kemarau) membuat saya pusing. Harga hotel jauh lebih mahal daripada di Sydney. Bolak-balik saya cek website wotif, booking, dan booking engine lainnya, berharap tarif hotel turun (atau ada yang khilaf pasang harga murah :p) Sampai akhirnya saya ‘menemukan’ Holiday Inn The Esplanade dan langsung jatuh cinta pada brand ini.

Ketika saya memesan hotel ini, rencana kami adalah pergi bersama Ibu Mertua, jadi harus pesan hotel untuk 3 dewasa dan 2 anak-anak. Di situlah rumitnya, karena terpaksa kami harus pesan 2 kamar. Kalau cuma berempat: dua dewasa dan dua anak, satu kamar dengan dua double bed biasanya sudah cukup. Tarif kamar ketika saya booking di bulan Maret 2012 adalah AUD 189 per kamar per malam, termasuk sarapan. Ini tarif yang non-refundable, artinya pesanan tidak bisa dibatalkan atau diubah tanggalnya, dan harus dibayar di muka. Waktu itu saya memesan melalui website resmi mereka dan membayar dengan kartu kredit. Sebelumnya, saya sempatkan bergabung dengan Priority Club Rewards mereka agar dapat poin selama kami menginap 2 malam di 2 kamar.

Nggak disangka, Ibu batal pergi dengan kami, padahal kamar kami tidak bisa dibatalkan. Ya sudah, saya pikir asyik juga punya dua kamar. Ntar anak-anak bisa tidur sendiri sementara The Emak dan Si Ayah … :p Di formulir pesanan saya sudah mencantumkan secara khusus meminta connecting rooms. Ternyata ketika kami datang, resepsionis memberi kami adjacent rooms, cuma dua kamar yang berdekatan aja, tapi tidak ada pintu hubungnya. Si Ayah yang kecapekan menyetir dari Kakadu National Park langsung tertidur begitu menyentuh bantal. Sementara saya beberes dan menaruh barang-barang the precils di kamar mereka. Ternyata repot banget pakai dua kamar yang tidak nyambung. Little A berkali-kali pengen ke kamar kami, dan harus keluar masuk pintu dengan membawa kunci hotel. Kami bertekad akan komplain masalah ini ke manager setelah menikmati sunset di Mindil Beach.

Sepulang dari pantai, Si Ayah yang bahasa Inggrisnya lancar banget langsung menghadap manager, perempuan bernama Kate. Dia secara tegas meminta kami dipindahkan ke connecting room karena repot bolak-balik buka tutup pintu. Dan anak-anak juga tidak nyaman di kamar sendiri. Ternyata pada hari itu semua connecting rooms terpakai, dan baru tersedia satu keesokan harinya. Kate menawarkan memindahkan kami ke kamar suite dengan dua extra bed. Saya langsung mengiyakan daripada ribet. Dan kapan lagi mencoba kamar suite? Hehehe…

Kate manager satu ini langsung gerak cepat, turun tangan sendiri memindahkan barang-barang kami dari kamar dengan troli dan mengantar kami ke kamar suite. Dalam sekejap, masalah kami terselesaikan. Pelayanan seperti ini yang membuat saya langsung jatuh cinta pada brand Holiday Inn 🙂 *yes, I am that cheap* Sungguh perasaan yang menyenangkan merasa dihargai dan dibantu dengan cepat sampai masalah selesai. Tarif kamar kami tidak bisa diubah, dan kami pasrah saja 2 kamar biasa kami diganti satu kamar suite dengan dua ekstra bed. Saya nggak mau repot ngecek tarif aslinya, untung apa rugi 🙂

Kamar suite jelas lebih lega. Ada ruang duduk dengan sofa, televisi dan toilet dan satu kamar dengan king bed yang dipisahkan oleh rolling door kayu. Kamarnya dilengkapi ensuite kamar mandi dengan shower, bathtub dan toilet. Dua extra bed diletakkan di ruang duduk. Karena ada dua televisi, The Precils bisa menonton Nickelodeon sementara The Emak bisa tenang menonton Grand Slam Roland Garros. 

Satu kelemahan hotel ini adalah tidak ada sinyal di dalam kamar sama sekali. Ketika kami tanyakan pada Kate, ternyata karena di depan hotel ini dipasang kerangka anti angin topan yang membuat sinyal juga tidak bisa masuk. Darwin pernah dilanda angin topan Tracy pada tahun 1974 yang meluluhlantakkan kota. Jadi kalau ingin menelpon, mengirim sms atau menggunakan internet, kami harus turun ke lobi. 

Sarapan pagi di hotel cukup enak dan bervariasi. Yang paling juara adalah hash brown-nya, semacam kentang goreng tapi bentuknya seperti perkedel, biasa sebagai menu sarapan di Aussie. Saya mencoba menu vegetariannya: jamur dan tomat panggang yang segar dan yummy. Menu telur juga bermacam-macam, bisa dipesan langsung ke chef-nya. Yang nggak ada adalah nasi! Hehehe, ini yang membuat Si Ayah ngotot makan di kafe Indonesia siang harinya. Kalau nggak ketemu nasi nggak kenyang 🙂

Kami juga sempat mencoba kolam renangnya. Lumayan mengasyikkan meskipun airnya dingin. Yang saya suka lagi dari hotel ini adalah ada mesin laundry koin. Jarang-jarang ada mesin laundry di dalam hotel, karena mereka juga jualan servis laundry yang mahalnya minta ampun itu. Dengan laundry koin, cukup memasukkan 3x koin $1 untuk mencuci dan $3 berikutnya untuk mengeringkan. Hemat dan bersahabat, yay!

Lokasi hotel ini, di The Esplanade No.116 cukup strategis, berada tepat di depan taman pinggir laut yang bisa untuk jalan-jalan di pagi dan sore hari. Di ujung esplanade, ada Aquascene, tempat untuk memberi makan ikan-ikan laut. Kami tinggal jalan kaki sekitar sepuluh menit dari hotel ke Aquascene. Menuju ke pusat kota juga lumayan dekat, sekitar lima belas menit sudah sampai ke pertokoan, kafe, restoran dan supermarket. Parkir di hotel ini gratis untuk tamu hotel. Kita tinggal minta token (koin khusus) untuk dimasukkan ke gerbang parkir agar palang pintu otomatis membuka.

Jangan salah, di jalan The Esplanade ada DUA hotel Holiday Inn, satunya di nomor 116 (tempat kami menginap) dan satu lagi di nomor 122. Hotel kami lebih khas tampak depannya karena ada bangunan penangkal angin topan. Kenapa kami memilih menginap di hotel No.116 ini? Jelas karena pada waktu itu tarifnya lebih murah daripada hotel satunya 🙂

Secara umum kami cukup terkesan dengan pengalaman tinggal di (suite) hotel ini. Apalagi setelah seminggu kemudian ketika mengecek akun Priority Club, saya diberi poin dobel dari hotel ini, mungkin sebagai tanda permintaan maaf. Lumayan, poin bisa dikumpulkan untuk menginap di Holiday Inn berikutnya 😉

Jalan-jalan di The Esplanade di depan hotel, sekalian menuju Aquascene

~ The Emak

[Penginapan] Kakadu Lodge & Caravan Park

Malam Bertabur Bintang di Kakadu Lodge

Di Australia, kita bisa main-main ke banyak Taman Nasional karena tempatnya terawat, ada jalan yang mulus, dan selalu ada pilihan akomodasi, mulai dari area camping sampai hotel mewah.

Tidak banyak pilihan akomodasi di Kakadu National Park yang letaknya di antar berantah ini. Hanya ada satu kota kecil Jabiru yang menjadi pendukung logistik penginapan yang ada di sini. Nggak heran kalau tarif menginap di sini lebih mahal daripada di kota.

Di kota Jabiru ada tiga pilihan penginapan: Wildman Wilderness Lodge, Kakadu Lodge & Caravan Park dan Gagudju Crocodile Holiday Inn. Sementara di Cooinda, tempat kami menunggu untuk ikut tur Yellow Water Cruise, ada Gagudju Lodge Cooinda. Dua penginapan yang terakhir ini bisa dipesan melalui website Gagudju-Dreaming, yang merupakan operator tur Yellow Water Cruise dan paket tur lainnya. Tadinya saya ingin menginap semalam di Holiday Inn yang bentuk hotelnya kalau dilihat dari atas seperti buaya dan semalam lagi di Gagudju Lodge Cooinda supaya itinerary cocok dengan tempat menginap, ketika selesai Yellow Water Cruise bisa langsung istirahat di Cooinda. Gagudju Lodge Cooinda ini juga cocok untuk yang ingin ikut Sunrise Yellow Water Cruise, karena tur dimulai tepat di depan lodge, tinggal menunggu jemputan. 

Sayangnya Holiday Inn dan Gagudju Lodge Cooinda kapasitasnya maksimal empat orang per kamar. Sementara kami rencananya pergi berlima. Saya sudah menghubungi Holiday Inn dan Cooinda Lodge, tapi mereka tidak bisa membantu soal kapasitas kamar, jadi harus memesan dua kamar. Akhirnya saya putuskan untuk memesan penginapan di Kakadu Lodge dan Caravan Park. Cabin di sini bisa muat untuk lima orang: ada ranjang utama untuk dua orang, ranjang susun untuk dua orang dan satu lagi ranjang sorong untuk satu orang. Harga per malam untuk lima orang tidak murah. Saya memesan melalui website check-in sebesar AUD 240 per malam. Mahal ya? Begitulah, kombinasi antara peak season (musim kemarau dan musim liburan Juni-Juli) dan akomodasi yang jauh dari mana-mana membuat harga relatif mahal. Harga di atas belum termasuk sarapan pagi, duh. Saya pesan di website Check In karena tergoda oleh cash-back mereka yang diberikan langsung ketika memesan. Lumayan bisa menghemat $13, hehe. Saran saya, jangan terlalu fanatik dengan satu booking engine. Bandingkan harga/tarif penginapan di minimal tiga booking engine, termasuk website mereka sendiri, baru pilih yang termurah. Kalau malas browsing, bisa klik Hotels Combined yang sudah ‘pintar’ membandingkan langsung beberapa booking engine, kita tinggal pilih.

Sebenarnya ada yang lebih murah daripada penginapan yang saya sebutkan di atas, yaitu mendirikan tenda di tempat camping yang disediakan oleh pengurus national park. Daftar tempat camping bisa dilihat di buku panduan Kakadu NP atau website. Tapi namanya di alam liar beneran, tempat-tempat ini tidak steril dari hewan buas. Ketika saya kembali ke Darwin, saya membaca di salah satu koran lokal bahwa ada tenda traveler yang diserang oleh Dingo (anjing liar khas Aussie). Duh, kalau saya hanya berani pasang tenda di tengah-tengah peradaban 🙂

Kasur The Emak dan Si Ayah
Kasur The Precils

Saya tidak menyesali pilihan menginap di Lodge ini. Tempatnya bagus, sekitarnya rimbun dan bersih. Kabin kami tidak besar, tapi cukup luas untuk berlima, dilengkapi dapur mungil dan kamar mandi di dalam. Fasilitas dapur cukup lengkap untuk menyiapkan makan sendiri: kulkas besar, ketel air listrik, pemanggang roti dan hotplate (wajan listrik). Tentu kami membawa rice cooker kecil sendiri untuk menanak nasi :p Karena Kakadu lumayan jauh dari peradaban, kami membawa bahan makanan dari Darwin. Ketika memasak sendiri ketika traveling, saya nggak mau ribet. Biasanya kami akan membeli satu daging (ayam atau sapi) yang sudah dibumbui di supermarket (ada juga dalam bentuk sate/kebab), dan membeli bahan-bahan salad: selada, tomat dan timun. Nanti dagingnya tinggal di-grill atau dibarbekyu. Tambahkan nasi hangat, sudah jadi menu sehat dan mengenyangkan. Yum!

Menginap di Lodge memang menguntungkan karena kita bisa memasak sendiri makanan kita. Kalau tinggal di hotel, tidak ada dapur atau tempat memasak sendiri, jadi harus keluar uang untuk membeli makan di restoran, yang tentunya lebih mahal dan bisa jadi berbeda dari selera kita (dan belum tentu ada nasi untuk Si Ayah :p).

Dapur mungil
The Precils having a good time at swimming pool

Selain dapur, fasilitas lodge lain yang kami gunakan adalah mesin cuci dan kolam renang. Pagi hari sebelum berangkat ke Cooinda, kami sempat berenang di kolam renang ‘pribadi’ karena tidak ada penghuni lain yang senekat kami, berenang di air yang dingin. Meskipun saat itu suhu udara panas, namun suhu air sangat dingin, apalagi di pagi hari. Setelah anak-anak selesai berenang, kami bisa langsung mencuci baju di mesin laundry yang dioperasikan dengan koin. Malamnya ketika kami kembali, baju-baju sudah kering dan wangi 🙂 

Satu hal yang istimewa ketika menginap di Taman Nasional Kakadu, kami disuguhi hiasan langit yang spektakuler. Karena minimnya cahaya buatan manusia (hampir tidak ada pemukiman penduduk), bintang-bintang di langit kelihatan sangat jelas. Maklum orang kota, saya terkagum-kagum menikmati pemandangan langit nan indah yang berhasil diabadikan Si Ayah ini.

 ~ The Emak

Sejuta Pesona Kakadu

Senja di Yellow Water, Kakadu National Park

Perjalanan kami ke Kakadu National Park sangat membekas di hati. Sampai sekarang pun ketika saya menuliskan kembali kisah ini, masih terbayang bentangan pemandangan indah yang kami saksikan di alam yang masih perawan.

Kakadu National Park adalah taman nasional terbesar di Australia. Letaknya di Northen Territory, sekitar 200 km sebelah timur kota Darwin. Kakadu memperoleh status heritage site dari UNESCO karena alam sekaligus budayanya. Orang Aborijin adalah pemilik asli tanah ini. Mereka ‘meminjamkan’ tanah Kakadu untuk dikelola pemerintah daerah sebagai taman nasional.

Apa yang bisa dilihat di Kakadu NP? Tentu keindahan alam dan marga satwanya yang melimpah. Di Kakadu terdapat 290 jenis burung, 60 jenis mamalia, 50 jenis hewan air tawar, 10.000 jenis serangga dan 1600 jenis spesies tanaman. Yang menjadi raja tentu saja buaya, si penduduk asli 🙂

Kami melakukan perjalanan mandiri dengan menyewa mobil biasa (bukan 4WD) ke Kakadu NP. Tadinya kami agak takut dan khawatir karena daerahnya lumayan terisolir, tapi ternyata asyik-asyik aja karena semua jalan mulus dan papan penunjuk jalan jelas. Pastikan mengunjungi Kakadu NP pada musim kemarau (Juni/Juli) karena di musim penghujan banyak banjir di daerah rawa dan lembahnya, sehingga banyak jalan yang terputus dan ditutup. 

Perjalanan ke timur dari Darwin kami mulai setelah kenyang sarapan. Hari itu kebetulan hari ulang tahun perkawinan kami yang ke… (ah, lupakan, ntar ketauan umurnya). Dari Darwin kami mengambil jalan tol menuju kota kecil Jabiru, ibukota Kakadu yang juga merupakan kota tambang Uranium. Tak lupa bensin kami isi penuh sebelum melaju keluar kota. Lepas dari tol, jalan raya mulus dan sepi, tanah merah dan pohon-pohon kering di sepanjang jalan. Kami hanya sesekali mendahului road train (truk gandeng empat!) yang menuju Jabiru. CD One Direction (milik Big A) menjadi teman perjalanan kami :p

Sekitar sejam kemudian, kami singgah di Window on the Wetlands. Visitor centre ini memiliki display menarik tentang hewan-hewan yang hidup di Wetlands. Dari lantai dua, kami juga bisa mengamati pemandangan dan mengintip aktivitas hewan-hewan yang tertangkap oleh teropong. Saya tertawa takjub ketika teropong saya menangkap aksi burung-burung yang sedang mematuk-matuk kulit kerbau. Ingat nggak pelajaran simbiosis mutualisme waktu SD dulu? Ini saya baru lihat beneran contohnya, tidak cuma ada di ilustrasi buku :p Kami cukup lama istirahat di sini, sambil makan pie di kafenya. Juga agar Si Ayah meluruskan kaki dulu sebelum kembali menyetir sekitar 2 jam lagi menuju kota Jabiru.
 

Anindya di Window on the Wetlands

Kami menginap di Kakadu Lodge di pinggir kota Jabiru. Sekitar jam 2.30 siang kami sampai dan langsung cek in. Kami istirahat sebentar dan menata barang bawaan sebelum nantinya berangkat untuk melihat sunset di Ubirr.

Ubirr terkenal dengan lukisan di batu-batu karya orang Aborigin. Mereka melukiskan dongeng asal usul, kisah perjalanan dan hewan-hewan yang hidup bersama mereka: berbagai jenis ikan, kura-kura, possum dan wallaby. Lukisan-lukisan ini berkali-kali dilukis ulang di lapisan yang baru, sejak 40.000 SM. 

Sebelum ke Ubirr, kami singgah dulu ke Bowali Visitor Centre untuk membeli tiket masuk ke Taman Nasional. Biayanya AUD 25/orang yang berlaku sampai 14 hari menjelajahi taman nasional ini. Semua orang di atas 16 tahun wajib mempunyai ‘park pass’ ini, sementara anak-anak di bawah 14 tahun dan penduduk Northen Territory gratis. Pass atau tiket ini nantinya akan dicek secara acak oleh ranger yang patroli. Kalau ada yang kedapatan tidak mempunya tiket, akan dikenai denda. Tapi selama tiga hari kami ada di Kakadu, tidak ada yang mengecek ‘park pass’ kami 🙂 Setelah membayar $25, kami mendapatkan kartu pass dan buku panduan Kakadu yang isinya sangat lengkap dan jelas, termasuk peta yang membantu kami menjelajah Kakadu dengan menyetir sendiri.

Untuk mencapai Ubirr, kami mengendarai mobil di jalan aspal, sekitar 41km ke arah timur laut Jabiru. Jalanan aspal ini kadang banjir dan tidak bisa dilewati di musim hujan. Ketika kami berkendara menuju Ubirr, ada sebagian jalan yang tergenang karena luapan air dari wetlands di seberang jalan. Di titik ini kami malah takjub dan berhenti untuk memotret burung-burung cantik yang dengan cueknya berjalan-jalan di habitat mereka. Untung tidak ada orang lain yang lewat 🙂

Dari tempat parkir di Ubirr, kami masih harus berjalan sekitar 300m menuju galeri-galeri lukisan batu. Sebelum melihat lukisan aborigin, sebaiknya sempatkan ke toilet (gratis dan bersih!) di tempat parkir ini dulu. Kejadian dengan Little A, dia baru bilang akan pipis ketika kami sudah berada di atas dan senja hampir datang. Alhasil saya lari bolak-balik dari galeri ke toilet, takut ketinggalan momen matahari terbenam. Lumayan banget olahraganya. Yang perlu dipersiapkan juga adalah bekal air minum dan krim anti serangga. Begitu maghrib datang, jutaan serangga, nyamuk ganas akan menyerang kita tanpa ampun. 

Tidak rugi kami mendaki ratusan tangga alami ke puncak Ubirr ini. The precils tidak tampak kecapekan sama sekali. Bahkan Little A dengan semangat mendaki sendiri, mengikuti tanda panah oranye yang disematkan di bebatuan.

Hadiahnya adalah pemandangan matahari terbenam yang sangat cantik. Di depan kami, sejauh mata memandang, terlihat hamparan ngarai hijau, yang bakalan penuh dengan air di musim hujan.Di belakang kami bebatuan Ubirr berkilau jingga tertimpa cahaya matahari sore, dan semburat pink menghiasi langit.

Banjir di tengah jalan menuju Ubirr. Bertemu si burung cantik.
Menikmati sunset di Ubirr

Esok harinya setelah sarapan dan berenang di Kakadu Lodge, kami siap menjelajahi Kakadu lagi. Dalam satu hari penuh ini kami akan rencananya akan ke Nourlangie Rock Art Site dan Waradjan Cultural Centre sebelum akhirnya mengikuti tur Yellow Water Cruise sambil menikmati sunset.

Letak Nourlangie sekitar 35 km arah selatan Jabiru. Sayangnya waktu kami ke sana, jalan ke Nourlangie ditutup. Mungkin ada banjir atau genangan, atau mungkin buaya-nya lagi pengen naik ke daratan, whiii :p Akhirnya kami detour mendaki ke Nawurlandja Look Out. Kami harus kembali mendaki bebatuan merah, 600 meter kami tempuh sekitar setengah jam sampai ke puncak. Di atas Nawurlandja, kami bisa melihat lanskap daerah Nourlangie dengan jelas: lembah menghijau dan batu-batu besar yang megah.

Di puncak Nawurlandja

Dari Nawurlandja, kami meneruskan perjalanan ke selatan menuju
Waradjan Cultural Centre, sekitar 35 km lagi. Perjalanan ini mulus karena melalui jalan raya beraspal yang sepi sekali. Kendaraan yang lewat hanya satu dua. Di Waradjan, kami belajar banyak tentang kebudayaan orang-orang aborigin. Dari museum-museum yang pernah kami kunjungi di Australia, ini adalah museum tentang budaya aborigin yang terlengkap dan terbaik. Display, cerita, video, musik dan suara-suara yang ditampilkan membuka mata kami dan memperbarui pemahaman kami tentang suku asli Australia ini. Sayang sekali kami tidak boleh mengabadikan dengan kamera. Cerita tentang orang-orang aborigin dan budaya mereka akan saya tulis dalam bab tersendiri.
Setelah istirahat dan makan es krim di Waradjan, kami bergegas ke tujuan utama kami di Kakadu: mengikuti Yellow Water Sunset Cruise. Kami berkumpul dulu di Gagudju Lodge Cooinda untuk mendaftar. Tiket sudah saya pesan online jauh hari sebelumnya di website mereka: Gagudju Dreaming. Gagudju Lodge dekat sekali dengan Waradjan, hanya sekitar 3 kilometer. Bahkan ada jalan tembusnya untuk pejalan kaki. Tapi terima kasih, kami naik mobil saja 🙂

Yellow Water Cruise ini salah satu kegiatan yang kami nanti-nantikan, disarankan banyak traveller sebagai tur yang ‘wajib’ dicoba di Kakadu National Park. Tur ini akan membawa kami menelusuri Yellow River dengan kapal dan melihat dengan dekat flora dan fauna yang tinggal di habitat ini, termasuk penghuni tetap: buaya! Bisa dibilang seperti menonton tayangan Nat Geo Wild, hanya saja dengan mata kepala sendiri 🙂 Memang harganya tidak murah, tapi pengalaman yang kami dapatkan sebanding dengan harganya. Kami membayar AUD 88 untuk dewasa dan AUD 60 untuk anak-anak untuk tur selama dua jam. Anak di bawah 4 tahun gratis, yay! Ada beberapa pilihan jam tur: dari sunrise, pagi, siang, sore atau sunset. Kata review di tripadvisor, tur sunrise yang terbaik, karena marga satwa mulai terlihat menggeliat bangun mencari makan. Tapi kami memilih ikut tur sunset karena susah bangun pagi :p

Perahu Yellow Water cruise.
Lionel, guide kami di Yellow Water cruise, gak bisa berhenti ngomong 🙂
Tur sunset ini dimulai pukul 4.30 sore. Dari Gagudju Lodge Cooinda kami diantar dengan bus menuju dermaga pemberangkatan perahu. Ada empat perahu yang bersama-sama dengan kami menelusuri Yellow Water. Perahu kami tidak penuh dengan penumpang sehingga ada ruang untuk berpindah-pindah tempat duduk. Kami juga bebas berjalan-jalan kalau ingin memotret atau sekadar mengagumi wildlife. Kami merasa beruntung mendapatkan pemandu yang punya pengetahuan luas tentang kehidupan di Yellow River ini. Lionel, yang banyak omong ini bahkan tahu jadwal nongkrongnya hewan-hewan di sini. Beberapa kali perahu kami diputar agar dapat melihat beberapa hewan yang bersembunyi, seperti beberapa snake bird dan bayi-bayi Jacana.

Perahu berjalan pelan menyusuri Yellow River. Belum sampai lima menit, kami sudah ketemu dengan penghuni tetap sungai ini: yak benar, buaya! Yang pertama kami lihat sedang berjemur di antara ratusan bebek yang bernyanyi dengan cerewet (whistling ducks). Kok bisa bebek-bebek ini cuek aja ada buaya yang nongkrong di situ? Ternyata, kata Lionel, buaya nggak doyan bebek karena bulu-bulunya bikin geli tenggorokan 😀 Selanjutnya, tidak susah menemukan buaya lainnya. Ada yang berkubang di lumpur, ada yang pura-pura jadi batu, dan ada yang dengan kalem berenang di sisi perahu kami! Ketika buaya veteran berenang dengan santai di dekat perahu, orang-orang langsung heboh. Lionel dengan kalem bilang, “Tenang aja, dia cuma lagi patroli wilayahnya kok.” Sementara Si Ayah sibuk memotret dan saya sibuk mem-video, Little A dengan kalem bilang, Mommy, remember, don’t pat the crocodile! Oke, baiklah Nak, akan kuingat nasihatmu :)) Hari itu, terhitung tujuh buaya yang terlihat oleh kami.

Si buaya tidak doyan bebek, konon karena ogah tersedak bulu 🙂

Cilukba!

Buaya besar yang berenang dua meter dari perahu kami … glek!

Selain buaya, Yellow River ini dihuni oleh ratusan spesies burung cantik yang tidak kalah menarik. Salah satu yang menarik perhatian kami adalah burung Jacana, atau yang dijuluki Jesus Bird karena keahliannya berjalan di atas air. Burung ini posturnya kecil, dengan jambul merah di atas kepalanya. Lionel sempat memperlihatkan pada kami keluarga Jacana, penduduk asli Yellow River yang baru saja punya bayi. Ya ampun, si bayi Jacana ini imut dan cantik banget. Dia sedang main-main dan kadang bersembunyi di balik kaki Si Ayah. Kata Lionel, di keluarga Jacana, Si Ayah bertugas mengasuh anak, sementara Si Ibu yang mencari makan. Wow! Ayah The Precils sampai menyesal tidak membawa (karena tidak punya) lensa tele untuk mengabadikan wildlife yang mengagumkan ini. 

Burung cantik lainnya adalah Jabiru, yang namanya diabadikan menjadi ibukota Kakadu. Burung yang satu ini bongsor, lebih besar daripada burung bangau. Bulunya hitam legam dan langkah kakinya panjang-panjang. Kami beruntung bisa menyaksikan burung langka ini sedang mengais makanan di tepi sungai.
Dari 290 spesies burung yang menghuni taman nasional ini, kami sempat berkenalan dengan snake bird yang lehernya persis ular, egret si putih cantik, magpie goose, whistling kite, torresian crow, dan sempat melihat aksi elang laut yang sedang mencari makan. Big A sejak dulu tertarik pada wildlife dan juga terhadap jenis-jenis burung, sementara Little A lebih tertarik pada jenis-jenis tumbuhan. Dia dengan serius mengamati waterlily yang tumbuh di sepanjang sungai, dan kalau ada yang sedang mekar, minta difotokan.

Jabiru, si jangkung yang menjadi maskot kota.

Burung Jacana alias Jesus Bird, yang bisa berjalan di atas air.
Waterlily. Foto pesanan Little A.

Cruise berakhir ketika matahari mulai terbenam. Dari perahu yang tertambat dan bergoyang perlahan, kami menyaksikan air sungai yang berkilauan ditimpa cahaya jingga matahari yang menerobos pohon-pohon di tepi sungai. Sungguh senja yang magis dan indah. Perjalanan singkat di Kakadu menghadiahi kami dua senja terindah: di Ubirr dan di Yellow River.

Burung-burung nongkrong di dahan.
Senja merah di Yellow Water

Esoknya, dengan berat hati kami meninggalkan Kakadu, kembali ke peradaban :p Dalam perjalanan pulang dari Jabiru ke Darwin, kami singgah sebentar di Mamukala Wetlands. Di sana kami kembali menyaksikan marga satwa yang kami kenal dari ‘pelajaran’ Lionel hari sebelumnya. Big A dengan cepat menunjuk beberapa Jacana yang sedang mencari makan. Hewan-hewan yang tinggal di Mamukala ini berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Ada display yang sangat menarik dan mudah dipahami di gardu pandang Mamukala.

Kami kembali ke Darwin membawa sejuta kenangan akan Kakadu, terutama kehidupan marga satwanya yang damai karena tidak diusik oleh tangah jahil manusia 🙂

Beware of Crocs! And I’m not talking about sandals :
Mamukala Wetlands, pengunjungnya cuma kami berempat :p

~ The Emak

Road Trip Darwin – Kakadu

Jalanan sepi. Dunia serasa milik kami berdua… eh, berempat :p

Sejak Darwin masuk dalam pilihan “Destination Lonely Planet 2012”, pemkot Darwin langsung gencar pasang iklan ‘Visit Darwin’ di mana-mana. Tahun ini adalah tahun yang paling tepat untuk mengunjungi Darwin dan Northen Territory. Memang pemerintah Aussie paling pinter memanfaatkan momentum seperti ini. Saya termasuk salah satu yang termakan iklan. Memikirkan cara kapan dan bagaimana bisa mengunjungi Darwin tahun ini.

Saat ini kami sudah mengunjungi 5 dari 8 negara bagian di Australia: NSW, ACT, Victoria, Queensland dan Tasmania. Pengennya sih memang mengunjungi SEMUA negara bagian. Mumpung masih tinggal di sini.

Kami yang suka dengan wisata alam, punya dua pilihan tempat wisata alam yang menarik di Northen Territory: Uluru (dulu dikenal sebagai Ayers Rock) atau Taman Nasional Kakadu. Uluru, batu raksasa di tengah benua Australia ini memang menakjubkan. Selain menikmati fenomena alam, kita bisa mempelajari budaya suku asli aborijin di sini. 

Sayangnya dompet kami tidak terlalu tebal untuk mengunjungi Uluru. Tiket pesawat dari Sydney ke Alice Springs (kota terdekat untuk mengunjungi Uluru) lebih mahal daripada tiket Sydney-Bali, apalagi di musim liburan. Sementara, jalan darat atau road trip dari Darwin ke Uluru terlalu jauh bagi kami: sekitar 2000km, bisa ditempuh dalam 25 jam. Selain transportasi, penginapan di sana juga tidak murah. Akhirnya kami mengurungkan niat jalan-jalan ke Uluru, mungkin lain kali?

Untuk teman-teman yang ingin ke Uluru (liburan backpacker mungkin bisa lebih hemat), ada website yang bagus dari pemerintah Aussie, klik di sini. Untuk pilihan akomodasi bisa dilihat di sini.

Kecewa tidak mungkin bisa ke Uluru tahun ini, saya semakin rajin mencari tahu tentang Taman Nasional Kakadu yang letaknya 3 jam dengan mobil dari Darwin. Website dan buku panduan merekomendasikan Kakadu NP dikunjungi pada musim kemarau, yang jatuh sekitar bulan Mei – September. Di musim hujan Kakadu yang sebagian besarnya adalah tanah rawa, tidak bisa dilewati dengan mobil biasa, bahkan 4WD karena banjir.

 

Beruntung, kami punya kesempatan mengunjungi Darwin dan Kakadu di bulan Juni, bersamaan dengan kepulangan kami ke Indonesia. Jadi dari Sydney, kami mampir dulu ke Darwin dan jalan-jalan ke Kakadu selama enam hari, kemudian lanjut pulang ke Indonesia via Denpasar. 

Setelah mendapatkan tanggal dan memesan tiket pesawat, saya mulai menyusun itinerary. Ketika itu saya bingung apakah mau menyewa mobil dan melakukan road trip atau ikut tur saja. Dari website ini, banyak tujuan wisata yang hanya bisa dicapai dengan mobil 4WD, sementara Si Ayah belum pernah menyetir 4WD. Bisa dibayangkan kengerian kami kalau ada apa-apa dengan mobil 4WD di tengah antah berantah. Sempat terpikir oleh saya untuk mengikuti tur saja dari Darwin ke Kakadu. Namun saya tidak menemukan tur yang cocok untuk keluarga dengan anak balita. Biasanya tur yang dijual untuk backpacker atau keluarga dengan anak yang lebih besar. 

Untungnya saya menemukan website operator tur yang dimiliki oleh orang aborijin ini: Gagudju Dreaming. Website ini sangat membantu saya untuk membuat itinerary yang cocok untuk the precils. Dari operator ini saya juga memesan salah satu tur yang ‘wajib’ dilakukan kalau mengunjungi Kakadu:
Yellow Water Cruise, saat sunset atau sunrise. Sesuai contekan itinerary dari mereka, kami akan menyewa mobil biasa (bukan 4WD) dan hanya mengunjungi tempat-tempat yang bisa dan aman dilalui mobil biasa saja.


Inilah itinerary road trip Darwin – Kakadu – Darwin kami:

A= Darwin, B=Jabiru, C=Ubirr, D=Yellow Water Cooinda

Hari 1
Darwin – Jabiru: 255 km, 3 jam 30 menit
Jabiru – Ubirr pp: 2x 41km, 2x 1 jam

Hari 2
Jabiru – Yellow Water: 2x 50km, 2x 1 jam
via An Bang Bang Billabong dan Waradjan Cultural Centre pp

Hari 3
Jabiru – Darwin: 255 km, 3 jam 30 menit

Kami menginap dua malam di Kakadu Lodge di kota kecil Jabiru.

Dalam perjalanan menuju Kakadu NP, kami singgah sebentar di Window on The Wetlands yang mempunyai display menarik tentang keanekaragaman hayati di sana. Di hari kedua, sebelum mengikuti tur Sunset Yellow Water Cruise, kami singgah di Nawurlandja Lookout dan Waradjan Cultural Centre. Pulang dari Kakadu menuju Darwin, kami sempatkan singgah di Mamukala Wetlands. Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi di Kakadu NP, beberapa di antaranya hanya bisa dilewati mobil 4WD, yaitu air terjun Jim Jim dan Twins.


Pemandangan dari Window on The Wetlands

Seperti biasa, kami memesan mobil secara online sebelum memulai perjalanan. Kali ini, setelah membandingkan harga, kami memilih memesan melalui Thrifty. Tarif dasar sewa mobil di Darwin lebih murah daripada di Sydney, tapi ternyata kita harus menambah harga sewa sesuai kilometer yang digunakan. Alhasil total sewa sama saja. Untuk enam hari sewa, kami membayar AU$ 338,23. Mobil kami ambil di bandara Darwin dan dikembalikan di tempat yang sama. Sewa mobil di Australia tidak termasuk sopir lho, harus menyetir sendiri. Tips menyewa dan menyetir mobil di Australia pernah saya tulis di sini.

Dari Darwin menuju Kakadu NP kami melewati jalan tol gratis yang lumayan sepi. Semakin ke pedalaman, jalanan semakin sepi. Kadang tidak ada mobil lain kecuali mobil (sewaan) kami. Meskipun sepi, tetap harus hati-hati menyetir mobil di sini karena kadang ada truk gandengan atau istilah di sini: road train. Tidak tanggung-tanggung, truk di sini gandengannya empat atau lima! Jadi harus hati-hati benar kalau ingin mendahului road train, harus dipastikan jalanan lurus dan tidak ada kendaraan lain dari arah berlawanan sepanjang 100m. 

Jalan dari Jabiru menuju Ubirr lebih kecil lagi, tapi sudah dilapisi aspal mulus. Hanya kadang ada jalan menurun yang kebanjiran dari wetlands (rawa). Di sini kita harus hati-hati karena banyak marga satwa liar seperti burung bangau yang menyeberang jalan. Pemandangan selama road trip dari Darwin ke Kakadu NP cukup membosankan, kanan kiri hanya ada pohon-pohon dan tanah merah. Pemandangan yang sama kami lihat selama tiga jam. Beda sekali dengan road trip kami sebelumnya di NSW, Tasmania atau tentu saja New Zealand. Tapi setelah masuk ke taman nasionalnya, kami lumayan dihibur dengan pemandangan gunung dari batu-batu alam yang menjulang, warnanya merah. 

Yang perlu diperhatikan, saat musim kemarau temperatur di Kakadu NP lumayan panas, mencapai 32 derajat celcius. Kami harus banyak minum air putih, memakai tabir surya dan mengenakan topi. Menjelang senja, kami juga harus mengoleskan krim anti serangga.


Meskipun hanya 3 hari 2 malam, road trip ke Kakadu NP ini cukup mengesankan. Tunggu cerita selengkapnya di postingan selanjutnya ya 🙂

Ransel dan koper kami
Mobil kami yang paling mungil 🙂
Berteduh di tempat parkir

~ The Emak

[Penginapan] Barramundi Lodge Darwin

The Emak dan Little A di depan Barramundi lodge
Kami memilih penginapan murah Barramundi Lodge ini karena cuma akan numpang semalam di Darwin, sebelum menjelajah Taman Nasional Kakadu keesokan harinya.
Penerbangan dari Sydney ke Darwin perlu waktu hampir lima jam. Berangkat dari Sydney siang, kami baru sampai di Darwin ketika langit sudah memerah, matahari hampir pamit. Begitu mendarat, saya langsung menelpon resepsionis penginapan ini karena kantor mereka tutup jam 5.30 sore. Kalau ingin cek in lewat dari jam itu harus janjian dulu. Kami menunggu sebentar bersama beberapa orang backpacker yang juga sedang mencari akomodasi. Tak lama ibu paruh baya yang kemungkinan pemilik penginapan ini menyambut kami. Kamar kami di lantai dua sudah siap. Cek in berlangsung mulus tanpa repot, cukup memperlihatkan salinan booking online. Setelah itu kami bergegas ke kamar kami untuk beristirahat.

Rekomendasi penginapan ini saya dapat dari Lonely Planet Australia edisi lama (tahun 2005). Sepertinya penginapan ini memang penginapan yang sudah beredar lama di kalangan backpacker. Ada beberapa pilihan akomodasi mulai dari bunk bed (ranjang susun) untuk backpacker sampai kamar untuk keluarga yang muat sampai 5 orang seperti yang kami tempati. Semuanya dengan fasilitas kamar mandi terpisah/umum. Saya memesan kamar ini dari website booking.com karena website Barramundi Lodge sendiri tidak begitu meyakinkan 🙂 Harganya sama, untuk family room yang muat untuk 5 orang harganya $165 per malam. Lumayan mahal ya untuk ukuran budget accommodation? Maklum aja, bulan Juni yang merupakan musim kemarau adalah musim liburan, termasuk high season untuk Darwin. Kalau ingin harga kamar yang jauh lebih murah bisa berkunjung ke sini ketika musim penghujan dan bukan musim liburan sekolah. Kami pesan kamar untuk 5 orang karena tadinya Mama kami mau ikut liburan ke Darwin ini, tapi akhirnya batal. Kalau mau mencari penginapan untuk 4 orang saja, atau kurang dari itu, bisa pesan kamar yang lebih murah.

Lokasi penginapan ini, 4 Gardens Rd, The Gardens tidak tepat di tengah kota, tapi dekat dengan Botanical Garden dan bisa jalan kaki ke Mindil Beach Market dan Casino. Tadinya saya berencana jalan-jalan ke Mindil Beach Market ini karena kebetulan kami datang Kamis malam (pasar Mindil hanya buka Kamis dan Minggu malam), tapi apa daya kami sudah terlalu capek dan lapar, dan memutuskan untuk jalan (naik mobil) ke kota mencari makan dan belanja kebutuhan bahan makanan untuk road trip ke Kakadu keesokan harinya. Malamnya kami bisa tidur dengan nyenyak karena lokasi penginapan ini lumayan tenang, jauh dari keramaian kota.


Fasilitas yang ada di lodge ini cukup sederhana, sesuai harganya 🙂 Di kamar kami ada satu double bed dan satu double bunk bed (ranjang susun dobel). Ada juga fasilitas kitchenette (dapur sederhana) berupa kulkas kecil, microwave, ketel listrik, toaster, kompor listrik, peralatan makan minum dan peralatan memasak. Semua masih dalam kondisi baik kecuali kompornya yang sudah karatan. Kami hanya memakai peralatan dapur ini untuk memanaskan makanan. Kamar mandi yang cukup bersih letaknya terpisah dari kamar, harus jalan kira-kira 10 meter 🙂 Jarak yang ‘cukup jauh’ ini membuat kami jadi malas mandi (ahlesyan!). Bagi kami, cuci muka dan sikat gigi di kitchen sink sudah cukup (jangan ditiru!). Di lodge ini juga ada fasilitas kolam renang kecil yang bebas untuk digunakan. Sayangnya kami tidak sempat mencoba karena pagi-pagi harus cek out dan segera menuju Taman Nasional Kakadu untuk petualangan selanjutnya.

~ The Emak

Berburu Sunset di Darwin

Sunset spektakuler di Mindil beach, Darwin. Foto oleh Anindito Aditomo.
Kedatangan kami di kota Darwin disambut langit senja ungu dan merah jambu. Pemandangan sunset cantik ini menemani kami yang berputar-putar dengan mobil sewaan di bandara Darwin, berusaha mencari jalan keluar menuju kota.
Darwin, ibukota dari Northen Territory atau Australia bagian utara seringkali tidak diperhitungkan sebagai tujuan wisata oleh turis Indonesia yang lebih memilih mengunjungi kota-kota di pantai timur Australia. Padahal lokasi Darwin ini paling dekat dari Indonesia, bisa ditempuh dalam 2 jam 45 menit penerbangan dari Denpasar. Waktu tempuh Denpasar – Darwin lebih pendek daripada Sydney – Darwin yang memerlukan 4 jam 45 menit. Yang tertarik dengan wisata budaya, khususnya tentang suku aborijin, atau suka dengan wisata alam, Darwin merupakan tujuan wisata yang patut diperhitungkan. Kota ini juga menjadi gerbang ke dua Taman Nasional: Litchfield dan Kakadu.
Saya dan The Precils yang pulang ke Indonesia Juni lalu, sengaja mampir ke Darwin, sekalian untuk merasakan jalan-jalan di Northen Territory Australia. Kami terbang dari Sydney ke Darwin dengan Jetstar dan dari Darwin ke Denpasar dengan Jetstar. Tidak ada alasan khusus mengapa kami memilih Jetstar, selain harganya yang sangat murah waktu itu 🙂 Tiket promo Darwin – Denpasar waktu itu ‘hanya’ AUD 99 untuk dewasa dan separuhnya untuk anak-anak.
Itinerary
Kami punya 6 hari 5 malam untuk menjelajah Darwin dan sekitarnya. Tiba Kamis sore, kami menginap semalam di penginapan budget, Barramundi Lodge. Jumat paginya kami melanjutkan perjalanan ke Kakadu National Park (kurang lebih 3 jam dengan mobil dari Darwin), dan menginap dua malam di Kakadu Lodge. Kakadu punya banyak tempat yang bisa dikunjungi, tapi karena waktu kami terbatas, kami hanya sempat singgah di Window on The Wetlands, mengunjungi Aboriginal Art Site dan menikmati sunset di Ubirr, mendaki gunung batu mencapai Nawurlandja Lookout, mengikuti Yellow Water Cruise untuk melihat marga satwa di taman nasional (termasuk buaya!) dan mampir sebentar di Mamukala Wetlands. Minggu siang kami sudah kembali ke Darwin dan menginap dua malam di Holiday Inn The Esplanade. Di Darwin kami jalan-jalan di Mindil Beach Market dan menikmati sunset spektakular di sana. Saking indahnya, kami sampai dua kali datang ke Mindil khusus untuk melihat sunset. Alasan lainnya sih karena Si Ayah belum puas motret sunset-nya :p Senin pagi kami jalan-jalan di the esplanade di depan hotel dan memberi makan ikan-ikan liar di Aquascene. Hari Selasa, sebelum terbang menuju Denpasar, kami sempat mengunjungi Museum dan Galeri Seni Northen Territory.

Tiba di sebuah kota yang baru pertama kali dikunjungi malam-malam ada kerugiannya, salah satunya susah untuk navigasi dan ‘menghafalkan’ nama-nama jalan di kota. Di Darwin, ini diperparah oleh tidak jelasnya papan nama jalan, yang hanya kecil dan berwarna putih. Kami yang sudah terbiasa melihat papan nama jalan yang jelas di kota lain, berwarna dasar hijau dan menyala dalam gelap, agak frustasi menyetir di Darwin, meski sudah berbekal peta. Padahal kota Darwin hanya beberapa blok saja, tidak sebesar Sydney atau Melbourne. Layout kota Darwin ini lebih mirip dengan Hobart.
Makan malam pertama kami di Darwin tidak terlalu mengesankan, hanya fast food di perempatan jalan. Suasana malam di kota Darwin cukup ramai, terutama anak-anak muda yang berpesta di pub. Di jalan-jalan utama banyak akomodasi dan kios tur untuk backpacker. Becak-becak modern berseliweran mencari penumpang. Saya sendiri merasa kurang nyaman jalan-jalan malam hari di  Darwin, kurang ramah untuk anak-anak. Beberapa kali kami berpapasan dengan orang mabuk dan orang yang cari gara-gara di restoran.
Pagi hari lebih bersahabat. Kami langsung cek out dari Barramundi Lodge dan jalan-jalan di Smith Street Mall menemani Si Ayah belanja di Camera House. Belanja memang bukan hobi Si Ayah, tapi gara-gara ada satu barang maha penting untuk fotografer yang ketinggalan di rumah, terpaksa pagi-pagi mengetuk pintu toko kamera ini. Sambil menunggu Si Ayah, kami juga belanja beberapa kartu pos untuk dikirim ke teman-teman. Ketika terang benderang, lumayan gampang untuk menghafalkan jalan-jalan di kota ini. Cuma ada beberapa jalan utama. Satu blok dari Mal ini ada restoran Indonesia: Ayuriz Cafe, yang letaknya di dalam Darwin Central Hotel, 21 Knuckey St. Kami sempat makan siang di kafe ini. Masakannya lumayan lezat, halal, tempatnya nyaman dan pelayanannya bagus. Kami mencoba ayam penyet, nasi rames dan bakmi goreng di kafe ini. Restoran Indonesia lainnya di Darwin adalah Sari Rasa di 29 Cavenagh Street. Restoran ini agak tersembunyi di dalam. Model makannya seperti warung, kita memilih nasi, sayur dan lauk. Si Ayah senang makan di sini karena masakannya yang pedas. Warung Sari Rasa ini juga halal.

Menunggu pesanan di Ayuriz Cafe

Pantai Mindil terkenal akan pemandangan matahari terbenamnya yang cantik. Setiap Kamis dan Minggu sore/malam di musim kemarau digelar pasar kaget di tepi pantai. Macam-macam yang bisa dijumpai di Mindil Beach Market ini, mulai dari jajanan dari berbagai negara, barang kerajinan, lukisan aborijin, fesyen, aksesoris, lampu hias, sampai tukang tato juga ada di sini. Kami berkesempatan mampir ke pasar ini Minggu sore. Pasar buka jam 4 sore sampai 9 malam di hari Minggu dan 5 sore sampai 10 malam di hari Kamis. Ketika kami datang, tempat parkir mobil yang luasnya selapangan bola sudah hampir penuh. Begitu mendapat tempat parkir (gratis), kami bergabung dengan orang-orang di riuhnya pasar. Si Ayah dan Big A tidak suka keramaian, jadi agak bete saya ajak ke sini. Sementara saya dan Little A masih bisa menikmati melihat-lihat barang lucu-lucu yang dijual di sini. Musik didgeridoo dari pengamen aborijin mengiringi orang yang lalu lalang. Untuk ‘menyogok’ Big A, saya belikan kentang spiral (potato spuds) yang gurih (dan asin) banget. Kalau Si Ayah, cukup dibelikan sate kambing di warung Sari Rasa yang juga buka stand di pasar Mindil ini. Capek melihat-lihat pasar, kami mencari posisi di pantai untuk melihat sunset bersama ratusan orang lainnya. Salah saya yang lupa membawa sarung pantai andalan kami. Terpaksa kami duduk di pasir, hanya beralaskan sepatu, sambil makan sate 🙂

Warung sate Indonesia lumayan laris di Mindil beach market
Hot dog buaya, ada yang mau coba?

Sunset di Darwin sangat istimewa, belum pernah saya melihat sunset di pinggir pantai secantik ini. Entah karena posisi lintangnya atau apa, matahari sebelum terbenam tampak sangat besar, bulat utuh berwarna kuning. Langit memerah dan perlahan-lahan matahari undur diri dari langit dan hilang di cakrawala. Peristiwa terbenamnya matahari ini hanya beberapa menit saja. Untuk fotografer yang mau mengabadikan momen ini, jangan sampai salah ambil posisi atau salah setting-an, bisa-bisa pulang dengan tangan hampa :p Atraksi alam ini mendapat sambutan luar biasa dari wisatawan yang khusus datang ke Mindil untuk menikmati sunset. Tepuk tangan dan suitan membahana begitu matahari ‘berhasil’ tenggelam di cakrawala. Ada yang nyeletuk, “well done” dan “good job“.

Di Darwin, melihat satu sunset ternyata tidak cukup. Keesokan harinya kami datang lagi ke Mindil beach. Kali ini suasana lebih sepi karena tidak ada pasar kaget. Hanya ada beberapa orang lokal dan penjaga pantai yang berkemas pulang. Waktu di Darwin lebih lambat setengah jam daripada Sydney, dan selisih satu setengah jam lebih awal daripada WITA (Bali). Tapi sepertinya sunsetnya tetap sekitar jam setengah enam sore waktu setempat. Kali ini saya tidak lupa membawa sarung Bali sebagai alas piknik. Kami berbekal fast food take away murah meriah untuk piknik di pinggir pantai. Biar ajalah menu makannya biasa banget, yang penting pemandangannya luar biasa. Karena sepi, the precils bisa lebih bebas bermain pasir. Kami tidak sampai nyemplung dan berbasah-basah di laut karena kabarnya pantai di Darwin ada box jellyfish yang membuat kulit gatal kalau terkena. Tak lupa kami membuat foto keluarga dibantu oleh tripod-baru! 😉

Tempat wisata yang menjadi highlight jalan-jalan kami di Darwin adalah Aquascene. Sederhananya, Aquascene adalah tempat kita bisa memberi makan ikan-ikan ‘liar’ dari laut. Ada berbagai macam jenis ikan yang datang ke Aquascene ini, paling banyak adalah Mullet, Cod, Milkfish (bandeng) dan Catfish (lele). Saya juga melihat beberapa ikan pari kecil berenang di tepian. Jam buka Aquascene tidak tetap, tergantung air pasang laut. Biasanya dalam sehari hanya buka sekali saja, pagi atau sore dan hanya 2 – 3 jam saja untuk menghindari overfeeding, agar ikan-ikan tidak kekenyangan. Untuk lebih jelasnya, sila buka website Aquascene di sini. Tiket masuk untuk dewasa $15 dan untuk anak-anak (usia 3-15thn) $10. Tiket keluarga (2 dewasa, 2 anak) cukup bayar $43. Tiket masuk ini sudah termasuk makanan untuk ikan-ikan, yaitu… roti 🙂 Maklumlah ikan bule, makannya roti bukan nasi.

Little A, Big A dan Si Ayah asyik memberi makan ikan di Aquascene
The Precils sangat menikmati aktivitas di Aquascene yang terletak di Doctors Gully Road, tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Kami berjalan kaki di sepanjang esplanade menikmati suasana pelabuhan Darwin, dan kemudian turun ke Aquascene. Cukup 15 menit jalan kaki dari Holiday Inn Esplanade. Tadinya saya kira Little A bakalan takut dengan ikan-ikan ini, ternyata tidak sama sekali. Little A langsung berani memberikan remah-remah roti langsung ke ikan. Dia juga mau berbasah-basah turun di ramp yang menjorok ke laut. Lama-lama, Little A malah ingin mengelus ikan-ikan yang tampak sehat dan besar-besar ini. Kalau saya sih geli sama badan ikan yang licin. Tugas saya memotret the precils dan Si Ayah yang asyik memberi makan ikan. Gantian lah, biasanya Si Ayah yang pegang kamera terus, kali ini giliran dia pegang anak-anak 🙂
Pada hari terakhir di Darwin kami sempatkan singgah di museum dan galeri seni NT. Tiket masuknya gratis (hurray!). Meskipun begitu, pelayanan dan display di museum ini sangat bagus. Di galeri pertama kami bisa menyaksikan hasil karya seni suku aborijin dan juga menonton film tentang kehidupan mereka yang tidak terpisahkan dari kegiatan berkesenian (menari, melukis di batu-batu, melukis wajah, membunyikan musik untuk upacara adat, dll). Selain tentang seni suku aborijin, ada juga display evolusi binatang dan display peringatan Cyclone Tracy yang memporak porandakan Darwin tahun 1974. Pada malam natal tahun 1974, angin siklon Tracy ini datang tidak diundang, menewaskan 71 orang dan merusak 80% bangunan yang ada di Darwin. Kota Darwin yang ada sekarang ini adalah kota modern yang dibangun dari reruntuhan angin siklon tersebut.
Khusus untuk anak-anak dan yang berjiwa anak-anak, ada Discovery Centre yang terletak di dekat kafe museum. Meskipun kecil, ruangan ini nyaman untuk sekedar duduk-duduk sambil mengawasi anak-anak mencoba alat-alat peraga yang ada. Little A tidak bosan-bosan bermain pazel dan membangun menara dari building blocks.
Penghuni superstar dari museum di Darwin ini adalah Sweetheart, buaya air laut sepanjang 5,1 meter yang sempat menghebohkan NT karena menyerang perahu-perahu, antara tahun 1974-1979. Akhirnya buaya raksasa ini ditangkap hidup-hidup, tapi tenggelam ketika transit. Sweetheart ‘asli’ sampai sekarang menjadi penghuni tetap di museum NT. Big A menolak ketika saya ajak melihat Sweetheart, sementara Little A bersemangat. Akhirnya saya gantian dengan Si Ayah untuk melihat Sweetheart. Di dekat display si buaya ditayangkan film dokumenter tentang penangkapan buaya ini. Memang lumayan membuat bergidik melihat buaya sepanjang 5,1 meter (meskipun sudah mati).  Sayangnya di museum ini dilarang mengambil foto, jadi kami tidak bisa berfoto dengan Sweetheart.

The Emak dan The Precils menuju Museum dan Galeri Seni Northen Territory
Di samping museum ini ada Cornucopia Cafe yang menurut review makanannya enak dengan view laut yang indah. Saya sudah memasukkan makan siang di kafe ini ke dalam itinerary, tapi apa daya Si Ayah lebih memilih makan nasi di warung Indonesia, Sari Rasa. Masuk akal sih, karena harga makanan di kafe ini tiga kali lipat harga seporsi nasi lodeh di Sari Rasa :p Kami memang sepakat untuk memangkas biaya makanan ketika liburan, tidak makan di tempat yang fancy. Lebih baik uangnya digunakan untuk liburan selanjutnya, ya nggak?
~ The Emak

Vivid Sydney 2012: Festival Cahaya Yang Menghangatkan Musim Dingin

Salah satu Papan informasi Vivid Sydney 2012

Vivid Sydney adalah festival tahunan yang diadakan tiap musim dingin. Tahun ini berlangsung dari tanggal 25 Mei – 11 Juni 2012.

Festival ini diadakan oleh pemerintah setempat sebagai salah satu program “Destination NSW”, kalau di Indonesia mirip seperti BBJ (Bulan Berkunjung Jember), namun skala dari Vivid Sydney adalah Internasional. Direktur utama Vivid Sydney, Anthony Bastic, menyatakan bahwa Vivid Sydney melibatkan pelaku-pelaku seni dari Perancis, Polandia, Hong Kong, Skotlandia, Amerika, Brazil, Singapura, New Zealand serta Australia. “Vivid Sydney didukung oleh pemerintah New South Wales (NSW) dan sponsor utama untuk menghadirkan kolaborasi kreatif dari 75 seniman tahun ini,” ujar Antony Bastic dalam pers release

Gedung Costum House disulap menjadi sebuah tontonan visual yang menarik.
Gedung MCA menjadi salah satu arena Vivid Sydney yang paling banyak mengundang perhatian pengunjung.
Seorang pengunjung mengabadikan Vivid Sydney dengan iPadnya.

Sementara Wakil Pertama Deputi NSW menyatakan bahwa Vivid Sydney merupakan panggung industri kreatif untuk menghibur masyarakat dan mendatangkan turis. “Tiga pilar dalam Vivid Sydney, Cahaya, Music dan Ide digabungkan untuk merayakan kehadiran sebuah industri kreatif yang profesional untuk Australia dan seluruh dunia,” ujarnya.

Gabungan antara teknologi dan seni menciptakan suasana yang benar-benar vivid di Circular Quay dan daerah The Rock. Festival ini dihadirkan untuk semua umur. “Wow its very interesting, look the Opera House is melting, its cool,” komentar Tiffany, salah satu pengunjung dari Taiwan. Lain lagi komentar dari nenek yang berada di sebelah saya waktu itu, “I’m going to see this Vivid from Cruise and it will be nice,” ucapnya sembari mengeluarkan kameranya. 
Sydney Opera House yang seakan-akan meleleh menjadi daya tarik tersendiri.
Sydney Opera House  berubah menjadi layar raksasa yang mempertontonkan aksi teatrikal seorang perempuan.
Gedung-gedung perkantoran turut memeriahkan Vivid Sydney 2012.
Tampaknya pemerintah NSW Australia benar-benar tahu caranya menarik wisatawan untuk datang ke Sydney. Yang jadi catatan adalah Vivid Sydney hanyalah secuil festival yang diadakan tiap tahunnya. Masih banyak festival kelas dunia yang akan hadir di Sydney. Semakin banyak festival berkelas, semakin banyak pula kemungkinan wisatawan asing akan datang.
Saya berharap sektor pariwisata di Indonesia mengadopsi sistem ini untuk menarik wisatawan asing dan juga menggeliatkan gairah seni kontemporer ke ranah area publik.

Tetap Semangat
2w_^

~ Radityo adalah mahasiswa Photomedia di CATC Design School, Sydney. Baca juga blog pribadinya tentang tips dan trik fotografi di http://fototiptrik.blogspot.com.au